Entrepreneur dimulai sejak dini

Setiap orang terlahir dalam potensi Entrepreneurship, Lingkungan bisa mendukung atau mematikan jiwa entrepreneur

Theopreneur

Allah secara kreatif dan inovatif menciptakan alam semesta dan isinya

Slide 3 Kreativitas dan Inovasi

Kreativitas dan Inovasi adalah bagian dari aktualisasi makna segambar dan serupa dengan-Nya.

Mari berentrepreneur di STT IKSM Santosa Asih

STT IKSM Santosa Asih menyadari peluang entrepreneur dan berusaha mengembangkannya secara terstruktur 6 bulan

Dr.Yonas Muanley, M.Th.

Yonas Muanley sudah duluan jadi dosen GoBlog di blogspot. Ayo para dosen Teologi mari kita sama-sama "GoBlog", para mahasiswa telah canggih dalam "GoBlog".

Thursday, January 14, 2016

Jenis-jenis entrepreneurship

Kompetensi Dasar 4
Mengidentifikasi Jenis-Jenis Entrepreneurship dan menerapkan jenis entrepreneur yang cocok dengan passionnya
Dalam uraian potensi entrepreneur anggota jemaat ditemukan teori bahwa setiap orang memiliki potensi entrepreneur (kreatifitas dan inovasi). Namun tidak semua anggota jemaat dapat melakukan semua jenis entrepreneur sebagaimana yang ditemukan dalam teori entrepreneur. Dalam beberapa literature entrepreneur ditemukan informasi bahwa terdapat  empat macam entrepreneurship. Keempat macam entrepreneur ini perlu diketahui oleh ssetiap orang/pemimpin gereja/jemaat sehingga mampu memberdayakan diri/menggerakkan jemaat untuk menekuni salah satu dari jenis-jenis entrepreneur tersebut. Jenis-jenis entrepreneur yang dimaksud, yakni:

a.       Business entrepreneur. Ada dua macam, yaitu: owner entrepreneur yaitu para pencipta dan pemilik bisnis, dan professional entrepreneur yaitu orang-orang yang memiki daya entrepreneur, namun membaktikannya di perusahaan milik orang lain. Walaupun mereka orang gajian, pola pokir dan cara kerja mereka tetap seperti seorang entrepreneur sejati. Menurut Gifford Pinchot orang seperti ini disebut sebagai intrapreneur.
b.      Government entrepreneur. Contoh: Lee Kuan Yeow, mantan perdana menteri Singapura. Ia adalah seorang pemimpin yang mengelola dan menumbuhkan Singapura dengan jiwa kecakapan entrepreneur. Ia mampu mewujudkan entrepreneurial govermrent. Sheik Mohammed Bin Rashyd Almaktoum pemimpin Dubai telah mengelola negaranya seperti mengelola sebuah perusahaan. Hal ini menunjukkan suatu contoh pemimpin bangsa dan pejabat pemerintah yang memiliki kecakapan government entrepreneur.
c.       Academic entrepreneur. Menggambarkan akademisi yang mengajar atau mengelola lembaga pendidikan dengan pola dan gaya entrepreneur sambil tetap menjaga tujuan mulia pendidikan. Nocholas Negroponthe, penggagas berdirinya yayasan One Child One Laptop dari Massacuhtts Institute of Technology’s, adalah seorang contoh yang memiliki entrepreneurship.
d.      Sosial entrepreneur. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para pejuang  social dan para pendiri organisasi-organisasi soasial kelas dunia seperti Mohhammad Yunus dari Grameen Bank dan Mother Teresha dari Calcuta. Pengertian sederhana dari social entrepreneur adalah seorang yang mengerti permasalahan social dan menggunakan kemampuan emtrepreneurship untuk melakukan perubahan social (social Change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan, dan kesehatan (heald Thcare). Jika business entrepreneur mengukur keberhasilan kinerja keuangan (provid ataupun revenue), maka keberhasilan social entrepenur diukur dari manfaat   yang dirasakan oleh masyarakat. [1]

Selain itu ada jenis-jenis entrepreneur berdasarkan karakter kepribadian. Ada pula yang mengelompokkan entrepreneur berdasarkan karakter. Dengan kata lain, jika macam-macam entrepreneur dirinci dengan menggunakan kriteria karakter kepribadian, maka entrepreneur dapat dibagi menjadi beberapa macam. Berikut adalah penjabarannya seperti disarikan dari Wikipedia.org.[2] 
a.       tipe pendorong. Mereka adalah entrepreneur-entrepreneur yang memiliki semangat pantang menyerah dalam menjalankan bisnisnya dengan  integritas dan etika yang tinggi. [3]
b.      tipe penasihat. Mereka ini berpandangan bahwa para pelanggan pasti dan selalu benar dan melakukan apapun yang diperlukan agar semua yang ia lakukan membuat pelanggan merasa begitu puas sehingga sang pelanggan tidak ingin berbisnis dengan perusahaan lain. “Manjakan pelanggan sebagai raja” adalah motto yang mereka junjung tinggi. [4]
c.       tipe superstar. Entrepreneur superstar bergantung pada karisma dan pada tingkat energi yang tinggi. Entrepreneur superstar ditemukan di panggung-panggung tengah berpidato dengan audiens yang terpukau karena semangat dan karismanya yang memancar saat menyampaikan ide-ide inovatif nan cemerlang. Contoh tokoh entrepeneur superstar yang menonjol ialah Richard Branson, Larry Page, alm. Steve Jobs, Ratan Tata (anak dari Tata).
d.      Tipe entrepreneur seniman. Entrepreneur ini sangat aktif berkarya dengan kreativitas yang meluap-luap. Ia sangat sadar dengan apa yang ia lakukan dalam berbisnis. Ia sangat menghargai berbagai masukan konstruktif dan tidak terlalu terganggu dengan citra negatif mengenai dirinya yang ada di masyarakat yang menganggapnya eksentrik dan ‘gila’. Aamir Khan, Michael Dell sang pendiri Dell, dan MC Cormich dari EMI ialah mereka yang dapat digolongkan dalam kategori ini. Berikutnya ialah entrepreneur visioner yang sangat berfokus pada impian tetapi agak mengabaikan realitas. Visi mereka sangat besar dan tinggi dan membutuhkan profesional berkompeten untuk mewujudkan impian besarnya.  Jack Welch, Bill Gates, dan Kishore Biyani ialah sejumlah entrepreneur tipe visioner. [5]
e.       entrepreneur analis, yang lebih fokus pada pemecahan masalah yang terjadi di bisnis mereka dengan cara yang lebih sistematis dan terstruktur. Mereka misalnya Gordon Hore (Intel), Rana Kapur (Yes Bank), Gautam Adani (Adani Groups). [6]
f.       entrepreneur ‘bola api’. Mereka ini memiliki bisnis dan menjalankannya dengan semangat yang tinggi, vitalitas tinggi, energi yang meluap dan optimisme yang melimpah. Mereka memiliki pola kerja yang santai dan tidak mengikat asalkan masalah yang ada terselesaikan dengan baik dan tuntas. Satu entrepreneur yang termasuk jenis fireball ialah Malcolm Forbes yang mendirikan Forbes Magazine.
g.      entrepreneur pahlawan. Mereka yang termasuk jenis ini memiliki keinginan yang kuat sekali dalam memimpin masyarakat menuju perubahan yang diinginkannya dan sanggup membawa usahanya dalam gelombang perubahan dan tantangan yang tidak bisa dilewati entrepreneur-entrepreneur biasa.[7]
h.      Entrepreneur penyembuh ialah tipe selanjutnya yang cenderung memberikan dan memelihara harmonisasi atau keserasian pada usaha yang dijalankan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk bertahan dan mempertahankan ketenangan dalam dirinya di saat krisis. Sejumlah entrepreneur yang sesuai dengan tipe ini ialah Dr. Bindeshwar Pathak (Sulabh International), Kumar Manglam Birla (anak L.M Birla).[8]
i.           entrepreneur oportunis. Mereka selalu mencari celah peluang dengan begitu giatnya. Hal ini menjadi pisau bermata dua bagi entrepreneur yang bersangkutan. Sebagian orang bisa menganggapnya rakus dan membuat fokusnya dalam berbisnis menjadi terganggu karena sibuk memburu peluang di mana-mana. Akan tetapi, dalam tingkatan yang moderat, entrepreneur dengan tipe oportunis akan dapat memiliki keunggulan dalam kejelian menemukan peluang emas dibandingkan yang lain.[9]
Berdasarkan macam entrepreneur di atas, setiap kita/anggota jemaat dapat dipimpin oleh seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen untuk dapat melakukan salah satu atau beberapa macam entrepreneur yang sesuai dengan pergumulannya sehingga mendatangkan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain (masyarakat gereja maupun masyarakat umum).  Pilihan atas beberapa entrepreneur di atas untuk kemudian dilakukan dalam kehidupan seorang anggota gereja dicirikan oleh Kristen. Artinya seorang entrepreneur Kristen memiliki ciri yaitu entrepreneur yang dibangun atas dasar firman Tuhan, seperti entrepreneur Ibu Tresa.





[1]S. Supriyanto, How to become a successful entrepreneur (Yogyakarta : Andi, 2014) hlm.17-18

Mengenal potensi entrepreneur dalam diri setiap orang

Kompetensi Dasar 3

Mengenali Potensi Entrepreneurship dalam diri setiap orang dan mengembangkannya.

Setiap orang adalah entrepreneur
Frasa potensi dalam sub judul di atas dipakai dalam pengertian ada tidaknya jiwa entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen, khususnya anggota jemaat. Bila tidak ada potensi atau kemampuan entrepreneur dalam diri orang Kristen maka kepemimpinan entrepreneurship Kristen yang akan dibahas tidak akan berguna, akan tetapi  bila ada potensi entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen maka sangat relevan untuk meneliti tentang kepemimpinan entrepreneur Kristen.
Maksud yang terkandung dalam alinea di atas menegaskan bahwa pembahasan tentang entrepreneur menjadi demikian relevan. Untuk itu perlu landasan argumentasi untuk membuktikan bahwa ada potensi entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen, khususnya warga jemaat. Dasar argumentasi bahwa setiap orang Kristen atau anggota jemaat memiliki potensi entrepreneur didasarkan pada dasar teologis dan teoritis yang dikemukakan sebagai berikut. 
Berdasarkan hasil studi etimologis dan berbagai definisi konseptual dari beberapa ahli tentang entrepreneur yang intinya menekankan tentang ”inovasi” dan ”kreativitas” sebagai ciri seorang entrepreneur maka dipastikan bahwa semua orang memiliki kemampuan entrepreneur. Jauh sebelum penggunaan kata entrepreneur yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata ”wirausaha”, Alkitab telah menegaskan bahwa Allah adalah sang entrepreneur yang memberi kemampuan entrepreneur dalam diri manusia yakni menciptakan manusia (Adam dan Hawa) segambar dan serupa dengan Allah (bnd. Kej. 1: 28).  Allah adalah sang entrepreneur utama dan pertama. Dikatakan demikian karena Allah menciptakan langit dan bumi dari yang tiada menjadi ada. Ia adalah pencipta, Inovator dan kreator. Oleh karena Allah adalah sang entrepreneur utama dan pertama maka Ia menciptakan manusia dengan kemampuan entrepreneur sebagaimana yang dapat dipahami dalam kata ”segambar” dan ”serupa”. Menurut William W. Menzies dan Stanley M. Horton, kata gambar (Ibr. tselem)  digunakan untuk patung dan model kerja. Jadi menurut kedua ahli ini, penggunaan kata gambar secara tidak langsung menyatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat pencerminan sesuatu yang berkaitan dengan sifat dasar Allah. Sedangkan kata ”rupa” (Ibr. demuth) digunakan untuk pola, bentuk atau ukuran yang adalah sesuatu seperti Allah pada diri mereka. Kedua teolog di atas melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa Adam dan Hawa dicipta dalam kesempurnaan tetapi tetap ada perbedaan antara pencipta dan yang dicipta, manusia makhluk terbatas dan bergantung pada Allah. Gambar Allah dalam diri manusia terdiri atas gambar alamiah dan moral, dan bukan dalam arti segambar dalam pengertian fisik.[1]
Pendapat terakhir di atas juga didukung oleh teolog Paul Enns, menurutnya, gambar dan rupa merupakan istilah yang tidak menunjuk secara fisik karena Allah adalah Roh (bnd. Yoh. 4:24), menurut Enns, kata gambar dipakai dalam pengertian keserupaan dalam spiritual, natural dan moral. Dalam keserupaan manusia (Adam dan Hawa)  secara natural, menegaskan bahwa manusia memiliki akal budi, emosi, dan kehendak untuk mengetahui dan berkomunikasi dengan Allah.[2] Paul Enns mengutip pandangan E. Brunner yang menyatakan bahwa manusia adalah yang sama sekali berbeda dengn binatang. Perbedaan itu terletak pada rasio, kebebasan dan daya cipta manusia.[3] Oleh kemampuan rasio, kebebasan dan daya cipta yang ada pada manusia memampukan manusia untuk melakukan apa yang disebut dengan entrepreneur (kemampuan inovasi, kreasi dan kemampuan menangung resiko/berani menghadapi resiko sebagai ciri entrepreneur).
Seorang teolog Baptis, Millard J. Erickson, menyimpulkan pengertian manusia sebagai gambar dan rupa Allah dalam enam (6), salah satunya yang cocok dengan entreprenur adalah kesimpulannya tentang ”gambar Allah”  sebagai  kekuatan-kekuatan kepribadian yang menjadikan manusia, seperti halnya Allah, mampu berinteraksi dengan pribadi yang lain, mampu berpikir, dan merenung, serta berkehendak dengan bebas.” Gambar Allah adalah sejumlah kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan hubungan dan fungsi tersebut. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan-kemampuan Allah yang, ketika tercermin di dalam manusia, memungkinkan pemujaan, interaksi personal, serta pekerjaan dapat terlaksana”.[4] Kemampuan ini merupakan akibat atau penerapan dari gambar Allah. [5]
Pakar teolog yang lain seperti  James Montgomery Boice menyatakan, salah satu arti diciptakan menurut gambar Allah adalah Adam dan Hawa (Laki-laki dan perempuan) memiliki atribut-atribut kepribadian yang Allah sendiri miliki, tetapi yang binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan materi tidak miliki. Untuk memiliki kepribadian, siapapun harus memiliki pengetahuan, perasaan (termasuk perasaan-perasaan religius) dan suatu kehendak. Allah memiliki kepribadian, demikianlah juga manusia.[6]
Berdasarkan kemampuan ini, Allah menugaskan manusia pertam, Adam dan Hawa untuk ”mengusahakan” dan ”memelihara” taman Eden (Kej. 2:15). Berdasarkan kedua teks ini dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahluk ”kreatif” dan ”inovatif”.  Bila dikatakan bahwa Adam dan Hawa adalah mahluk inovatif dan kreatif maka manusia zaman kini, termasuk anggota jemaat dari denominasi gereja manapun adalah bagian dari keturunan dari Adam dan Hawa yang juga memiliki potensi entrepreneurship.
            Pemaparan di atas tidak hanya sebatas Adam dan Hawa tetapi generasi Adam dan Hawa yaitu manusia dari segala suku bangsa juga adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena ciptaan Tuhan maka manusia masa kini dan masa yang akan datang adalah makluk yang memiliki kemampuan entrepreneur. Segambar dan serupa ada pada setiap manusia yang sejak kejatuhan tidak hilang tetapi dipengaruhi dosa sehingga segala yang baik dalam diri manusia diarahkan pada kecenderungan yang jahat. Itulah sebabnya gambar dan rupa Allah dipulihkan dalam pengorbanan Kristus.
Kemampuan entrepreneur sebagaimana yang ditinjau secara teologis dalam paparan di atas searah dengan teori umum entrepreneur yang dikemukakan oleh Hendro, Menurut Hendro,
semua orang bisa menjadi entrepreneur dan menemukan jenis entrepreneurship yang sesuai dengan minat dan passionnya sendiri. Tidak ada orang yang tidk bisa sukses menjadi entrepreneur yang kaya di usia muda, namun yang perlu diencanakan, dikuasia dan dipahami adalah bagaimana cara membesarkn bisnis serta teguh pada pendirian bahwa suatu saat pasti sukses. Ingat, jangan mundur bila anda telah memutuskan karena kegagalan itu muncul di saat anda ragu memutuskan. [7]
Point penting yang dipertegas dalam pendapat Hendro, penulis buku Dasar-dasar Kewirausahaan adalah penekakannya pada “semua orang bisa menjadi entrepreneur” dan jenis-jenis entrepreneur yang sesuai dengan minat dan passionnya sendiri. Ini berarti anggota jemaat dapat dipimpin oleh seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur yang mampu mengarahkan jemaat sehingga memberdayakan entrepreneur yang sesuai dengan kesukaan anggota jemaat.
            Jadi, potensi setia orang untuk berpikir kreatif sebenarnya sudah ada. Dikatakan demikian karena setiap orang adalah makluk ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa, memiliki potensi entrepreneur (berpikir kreatif). Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan kreativitas. Kreativitas tidak selalu menghasilkan produk konkrit, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, diantaranya berupa ide. Mustahil bila seseorang tidak mempunyai ide. Ide tersebut menghantar setiap orang pada kreativitas. Kreativitas sangat penting untuk menyiasati segala keterbatasan yang dihadapi setiap orang Kristen, kreativitas tersebut menolong setiap orang untuk memecahkan masalah pada berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghasilkan peluang atau karya baru untuk memudahkan kehidupan manusia. Sebenarnya, sejak dilahirkan setiap orang memiliki daya kreativitas yang cukup tinggi dalam DNA-nya. Tetapi masalah yang terjadi yakni tekanan hidup seiring proses pertambahan usia ternyata menekan daya kreativitas tersebut. Stres akibat mengalami tantangan kehidupan sehari-hari maupun dilema, membuat daya kreativitas seseorang berangsur kering. Namun daya kreativitas itu ternyata juga dapat diasah dan kembali ditingkatkan melalui kemampuan menciptakan tujuan yang jelas, agar dapat menghasilkan ide-ide yang jelas juga. Setelah itu, fokus dalam melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.





[1]William W. Menzies dan Stanley M. Horton , Doktrin Alkitab (Malang : Gandum Mas, 2003), hlm. 84-85
[2] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Buku Pengantar Teologi (Malang : Literatur SAAT, 2008), hlm. 44-45
[3] Theol. Diester Becker, Pedoman Dogmatika Suatu Kopendium Singkat (Jakarta : BPK, 2001), hlm. 88
[4] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum Mas, 2003), hlm.93
[5] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum Mas, 2003), hlm.93
[6] James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Surabaya : Momentum, 2011), hlm. 162-163
[7] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.537

Wednesday, January 13, 2016

Dasar Teologis Kristen Entrepreneurship

Kompetensi Dasar 2

Merekonstruksi Dasar Teologis Entrepreneur.
Dasar teologis Kristen tentang pengertian entrepreneurship yang menekankan pada aspek “kreativitas” dan “inovasi” sebagai solusi mengatasi masalah dalam kehidupan manusia. Dalam refleksi teologis Kristen, entrepreneur Kristen diartikan kreativitas dan inovasi yang dimotovasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani sesama dalam mengatasi masalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Artinya entrepreneur tidak dapat dipisahkan dari kesaksian Alkitab. Akan tetapi  Alkitab bukan kitab khusus tentang entrepreneur, melainkan firman Allah. Firman Allah adalah benar, oleh karena benar maka gagasan tentang entrepreneur ada dalam Alkitab. Kata entrepreneur tidak akan ditemukan dalam Alkitab tetapi ide dan praktik tentang entrepreneur disaksikan dalam Alkitab. Alkitab tidak memakai kata entrepreneur, Alkitab memakai kata ‘segambar dan serupa’. Oleh karena manusia dicipta segambar dan serupa dengan Tuhan, maka ada pada manusia kemampuan kreatifitas dan inovatif. Narasi teks Kejadian 1:27, dan 2:15 menegaskan potensi entrepreneur dan perwujudan entrepreneur dalam diri manusia. Tuhan menempatkan manusia di taman Eden untuk kreatifitas dan inovasi, perhatikan kata: pelihara dan usahakan dalam Kejadian 2:15.  
Menurut  Brian Baugus, “entrepreneurship is a creative act made possible by the creative impulse that God gave us. In addition, it requires certain personal traits that God desires us to have”.[1] Artinya, kewirausahaan adalah tindakan kreatif dimungkinkan oleh dorongan kreatif yang diberikan Allah kepada manusia/orang percaya. Selain itu, memerlukan sifat-sifat pribadi tertentu bahwa Allah menginginkan orang percaya untuk memilikinya.
Brian Baugus, melanjutkan pendapatnya dengan menyatakan:
Scripture contains several cases of entrepreneurship, but we must first make sure that we are using the proper definition of the word. Entrepreneurship is a creative act that brings higher levels of satisfaction to people, results in more order, and finds ways to create greater value than existed before. [2]

Artinya, Alkitab berisi beberapa kasus kewirausahaan, tapi pertama-tama kita harus memastikan bahwa kita menggunakan definisi yang tepat dari kata. Kewirausahaan adalah tindakan kreatif yang membawa tingkat kepuasan kepada orang-orang, menghasilkan lebih ketertiban, dan menemukan cara untuk menciptakan nilai lebih besar dari yang ada sebelumnya.

Tomatala memakai istilah entrepreneur rohani untuk membedakan dengan entrepreneur umum. Entrepreneur rohani dalam konteks pembahasan Tomatala dalam bukunya yang berjudul Spiritual Entrepreneurship Anda juga bisa menjadi entrepreneur rohani tidak lain adalah entrepreneur Kristen. Selain itu Abdul Jalil dalam bukunya berjudul Spiritual Enterpreneurship Transformasi Spiritualitas kewirausahaan menghubungkan dengan perspektif Islam terhadap entrepreneurship. Abdul Jalil tidak membahas pengertian entrepreneurship dalam perspektif agama lain tetapi hanya menyebutkan perspektif Islam.[3] 
Penjelasan di atas menghantar kita kepada kesimpulan bahwa entrepreneur dapat dibedakan dalam dimensi ekonomi dan rohani. Ada entrepreneur ekonomi dan entrepreneur rohani.

Bahan selanjutnya saya simpan .....
Dalam konteks Kristen, Dr. Yakob Tomatala menyatakan, entrepreneur rohani (Kristen) adalah orang yang memiliki hubungan unik dengan Tuhan sebagai dasar kekuatan dan integritasnya dalam berusaha. Entrepreneur rohani (Kristen) adalah penyalur berkat Tuhan kepada orang lain yang ada disekitarnya. [4]
Menurut Tomatala, makna kata entrepreneurship menunjuk kepada kadar kemandirian tinggi, yang olehnya ada pikiran, keberanian untuk bertindak melaksanakan sesuatu secara mandiri dengan menggunakan cara unik sehingga mendatangkan sukses, keberhasilan atau keberuntungan.” Berdasarkan definisi ini, Tomatala mengarahkan penekanan pada kemandirian yang menjadi salah satu ciri entrepreneurship. Berdasarkan fokus tersebut, Tomatala mengidentifikasi karakteristik seorang entrepreneurship sebagai berikut: [5]
a.       Seorang entrepreneur memiliki kemandirian dalam berpikir unggul yaitu kemampuan berpikir tinggi untuk mengubah sesuatu menjadi peluang untuk sukses atau melalui kemampuan berpikir tinggi, seorang entrepreneurship selalu berupaya untuk menangkap peluang, mencipta dan mencari kesempatan dalam segala sesuatu.
b.      Seorang entrepreneursip memiliki kemandirian dalam keberanian dalam mengambil keputusan dan berani menanggung resiko yang mungkin timbul atas keputusannya.
c.       Seorang entrepreneur memiliki kemandirian dalam kepiawaian merekayasa cara unggul untuk menangkap peluang usaha.
Berdasarkan pemahaman sebagaimana yang dimaksud di atas, maka seorang entrepreneur memiliki karakteristik kemampuan berpikir unggul, bersikap berani, dan bertindak dengan cara unggul dalam menanganai suatu upaya atau usaha mandiri (dalam berbagai bentuk) yang menyebabkan ia berhasil.[6]
Jadi, entrepreneur Kristen adalah kemampuan berpikir secara kreatif dan inovatif yaitu mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya ke dunia nyata atas (inovatif) kelompok Kristen yang dipimpinya. Seorang entrepreneur Kristen adalah seorang yang dalam kepemimpinannya mampu mengubah padang ilalang menjadi kota baru, atau mengubah tempat pembuangan sampah menjadi resort yang indah. Entrepreneur Kristen bisa mengubah sebuah peluang menjadi tempat dimana orang lain bekerja dan beraktivitas. Entrepreneur Kristen adalah orang yang mampu merubah kotoran dan barang rongsokan menjadi emas bagi anggota gereja yang dipimpinnya.  Entrepreneur Kristen dicirikan dengan kemampuan inovatif dan kreatif dalam memimpin. Entrepreneur Kristen adalah kepemimpinan yang mampu mempersiapkan bawahan yang dipimpin untuk bekerja secara kreatif dan dan inovatif dalam bekerja di tempat kerja dan mampu memimpin untuk menciptakan lapangan kerja yang berguna bagi anggota jemaat mendapatkan tempat kerja yang memungkinkan mendapat kesuksesan dalam keuangan, pengembangan gereja (perintisan gereja)
Entrepreneur Kristen yang memiliki jiwa entrepreneur adalah kemampuan atau mental memimpin secara kreatif dan inovatif. Mampu memimpin anggota jemaat untuk menerapkan inovatif dan kreatif di tempat kerja tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja yang akan berguna bagi orang lain. Dengan kata lain mempersiapkan anggota gereja agar tidak memiliki mental mencari kerja tetapi menemukan atau menciptakan kerja. Bukan mencari tetapi menciptakan peluang kerja. Bukan statis bekerja di tempat kerja tetapi mengembangkan semangat kerja secara kreatif dan inovatif, sementara bagi anggota jemaat sesuai kemampuannnya dipimpin untuk mewujudkan kemandirian menciptakan peluang kerja sehingga berguna bagi orang lain. Tegasnya karena konteks yang dihadapi yakni sedikitnya lapangan kerja yang tersedia sementara tenaga kerja sangat banyak maka pemimpin entrepreneur Kristen memimpin warga gereja untuk memiliki dan mewujudkan mental menciptakan peluang kerja. Pemimpin yang tidak menumpuk di gereja tetapi pemimpin yang mampu merintis gereja lokal. Pemimpin yang tidak hanya melamar di gereja yang sudah ada tetapi pemimpin yang mampu memualai jemaat baru di tempat baru. Kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah inovatif dan kreatif dalam berkhotbah dan bukan pelagiat khotbah (mengkopi paste) kotbah pendeta lain untuk disampaikan kepada jemaat. Kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah kepemimpinan yang terbuka terhadap bantuan (dukungan) sebagaimana Paulus mendapat bantuan dana dari perempuan kaya pada zamannya  tetapi berani memberdayakan kemampuan yaitu membuat tenda untuk keperluannya demi eksistensi pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Kepemimpinan Entrepreneur Kristen bukan pemimpin yang bergantung eksistensi pelayanannya pada pendapatan bulanan dari organisasi tetapi mampu berinovasi dan berkreasi mendapatkan pendapatan demi kelancaran pelayanan melalui kemampuan yang ada padanya seperti Paulus sang entrepreneur dalam misi Kristus. Paulus giat melaksanakan pekabaran Injil yang membutuhkan sokongan dana dari pihak lain yang menaruh perhatian pada misi Kristus tetapi Paulus juga secara alamiah memberdayakan kemampuan membuat tenda. Hasilnya yakni Paulus tetap mempertahankan eksistensi pelayanan sampai akhir hidupnya. Entrepreneur Kristen adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Pengarahan dalam hal ini berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah tertentu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani
Entrepreneur menjadi ilmu mandiri yang memfokuskan pada upaya menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan kreativitas dan inovasi dalam diri manusia. Dengan kata lian, dalam teori umum, entrepreneur telah menjadi bidang kajian yang mendapat perhatian luas. Pusat perhatian ini disebabkan karena factor kesulitan lapangan kerja yang raltif terbatas. Sementara lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi semakin banyak. Memahami kenyataan ini maka usaha membahas dan mempraktekkan entrepreneur menjadi bagian yang urgen.
Dalam konteks iman Kristen, firman Allah dalam Alkitab menjadi dasar teologis entrepreneur Kristen. Oleh karena firman Allah menjadi norma bagi kepemimpinan entrepreneur Kristen maka perlu dicari dasar-dasar Alkitabiah tentang entrepreneur. Inti dari entrepreneur adalah kemampuan mengubah masalah menjadi peluang kesuksesan melalui kreativitas dan inovasi.
Dalam Alkitab terdapat tokoh-tokoh yang sukses dalam entrepreneur, seperti:


1.      Abraham (Kej. 13, 14, 19, 21)
2.      Salomo (1 Kings 5, 9, I Kings 3, 4:26, 1 Kings 9, I Kings 12)
3.      Lydia of Thyratira (Acts 16:14-15, 40)

Secara teologis dapat dipahami bahwa entrepreneur merupakan salah satu usaha yang dikehendaki Tuhan dan itu diketahui melalui Alkitab maka orang Kristen atau anggota jemaat perlu didorong untuk mengembangkan potensi kreativitas dan inovasinya dalam mengubah berbagai kesulitan yang dihadapi untuk menjadi peluang. Jemaat tidak hanya memiliki kemampuan mempersembahkan persembahan tetapi jemaat dapat diberdayakan kemampuan entrepreneur. Dorongan entrepreneur seperti ini perlu dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Kristen, khususnya pemimpin gereja di mana seorang gembala melayani. Para pemimpin jemaat tidak hanya terbatas pada persembahan jemaat tetapi bagaimana menolong jemaat dengan kewirausahaan.
Ada banyak jenis entrepreneur yang dilakukan oleh anggota jemaat. Untuk maksud inilah maka diperlukan seorang pemimpin yang memimpin jemaat dengan gaya kepemimpinan entrepreneur Kristen. Entrepreneur Kristen didasarkan pada pemahaman teologis bahwa Allah adalah entrepreneur utama dan pertama. Demikian juga Yesus Kristus telah melakukan entrepreneur (kristopreneur) untuk keselamatan manusia. Jadi ada theopreneurship (Kej. 1), dan Christopreneurship (Injil), serta pneuma-preneur (Karya Roh Kudus) 
Entrepreneurship Kristen atau kewirausahaan Kristen  adalah tindakan kreatif dimungkinkan oleh dorongan kreatif yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya. Di dalam Alkitab terdapat banyak contoh tentang entrepreneur (kewirausahaan) tetapi Alkitab berisi beberapa kasus kewirausahaan, tetapi perlu dipahami bahwa perlu merumuskan suatu definisi yang tepat tentang kata kewirausahaan. Kewirausahaan adalah tindakan kreatif yang membawa tingkat kepuasan kepada orang-orang, menghasilkan lebih ketertiban, dan menemukan cara untuk menciptakan nilai lebih besar dari yang ada sebelumnya. [7]
Kemampuan entrepreneur sebagaimana yang dipaparkan dalam teori umum sebenarnya sudah ada dalam Alkitab. Dalam mandate Tuhan kepada Adam dan Hawa yaitu memelihara dan mengusahakan taman di mana manusia di tempatkan. Kemampuan untuk secara kreatif dan inovatif tersebut dapat terwujud dalam diri manusia karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Hal ini menegaskan bahwa setiap manusia sejak lahir sudah memiliki kemampuan entrepreneur.
Alkitab bukanlah kitab entrepreneurship tetapi Alkitab adalah firman Allah yang juga menyaksikan tentang salah satu tugas manusia yaitu entrepreneur. Di dalam Alkitab terdapat beberapa contoh tentang pelaku entreprenurship seperti Abraham yang sangat kaya, ia memiliki banyak ternak, emas dan perak.  Bahkan melalui entrepreneur Abraham semua orang diberkati. [8] Contoh lain dalam Perjanjian Lama adalah Raja Salomo yang terlibat dalam perdagangan, ia menjadi satu-satunya raja Yahudi untuk sepenuhnya memanfaatkan keuntungan yang diberikan oleh rute-rute perdagangan pada saat itu (bnd. I Raja-raja 5, 9). [9]. Sebaliknya, anak Salomo, memilih penasihat miskin dan membuat keputusan yang buruk (I Raja-raja 12). [10]
Di dalam Perjanjian Baru dikemukakan beberapa contoh entrepreneurship yang dapat dipahami dalam diri  Lydia dari ThyratiraLydia adalah seorang entrepreneur kain ungu di Thyratira.[11] Beberapa rasul juga melaksanakan entrepreneur yaitu menjalankan bisnis perikanan, dan pengumpulan pajak seperti  rasul Matius. Entrepreneur Paulus adalah membuat tenda, Sedangkan Lukas melakukan entrepreneur melalui praktek ilmu kedokteran.[12] Selain itu tindakan entrepreneur juga dapat dihubungkan dengan penanaman gereja seperti yang dilakukan oleh Paulus, Barnabas, Timotius, Silas, dan banyak lainnya. Jadi, penanaman gereja juga adalah tindakan kewirausahaan. Jadi, entrepreneur Kristen ditandai oleh iman, visi, ketekunan, dan kemauan untuk berdiri kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan enrtepreneurship.[13]
Selanjutnya saya simpan ......



[1] http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[2]Brian Baugus, Entrepreneurship in the Bible , tersedia dalam http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[3] Abdul Jalil, Spiritual Enterpreneurship Transformasi Spiritualitas Kewirausahaan (Yogyakarta : LKiS, 2013), hlm. 67
[4] Yakob Tomatala, Spiritual Entrepreneurship Anda Juga Bisa Menjadi Entrepreneur Rohani (Jakarta : YT Leadership Foundation, 2010), hlm. 7-8
[5] Yakob Tomatala, Spiritual Entrepreneurship Anda Juga Bisa Menjadi Entrepreneur Rohani (Jakarta : YT Leadership Foundation, 2010), hlm. 9-11
[6] Yakob Tomatala, Spiritual Entrepreneurship Anda Juga Bisa Menjadi Entrepreneur Rohani (Jakarta : YT Leadership Foundation, 2010), hlm. 11-12

[7]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[8]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[9]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[10]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[11]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[12]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014
[13]Brian Baugus, entrepreneurship in the Bible  http://blog.tifwe.org/entrepreneurship-in-the-bible/  diakses tanggal, 4 Desember 2014

Definisi Entrepreneurship

Kompetensi Dasar 1

Merumuskan pegertian Entrepreneurship

1.1.Pengertian entrepreneur secara etimologi kata
Secara etimologi, kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, dalam bahasa Inggris entrepreneurship, dalam bahasa Belanda Unternehmer sedangkan dalam bahasa Jerman ondernemen, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan kewirausahaan[1]. Secara etimologi, kata entrepeneur berasal dari bahasa Prancis yaitu entreprende yang berarti petualang, pengambil resiko, kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil ciptaannya. [2]
1.2.Pengertian entrepreneurship secara definisi Kamus
Pengertian kata menurut Kamus biasanya bersifat tetap. Artinya tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu tertentu. Dengan begitu, definisi suatu kata dalam Kamus biasanya bersifat statis dan bukan dinamis (selalu berubah). Dalam kamus Miriam Webster,  entrepreneur adalah seorang yang mengorganisir, mengelola dan memperhitungkan resiko dari sebuah usaha bisnis. Entrepreneurial (kata sifat), entrepreneurialism (kata benda dari paham), entrepreneurially (kata keterangan), entreprenership (kata benda). [3]
Jadi, jelaslah bahwa pengertian kamus ini bersifat tetap. Artinya dimanapun kamus ini ditemukan dan dibaca oleh siapapun arti kata entrepreneur tetap sama. Sementara dalam penelitian yang dilakukan dalam perguruan tinggi, kata entrepreneur mendapat pengerian yang beragam/selalu terbuka peluang untuk berbeda. Inilah yang dimaksudkan dengan pengertian dinamis. Beberapa pengertian dinamis tentang kata entrapreneur dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.3.Pengertian entrepreneurship secara Konseptual (Hasil Penelitian)
Dalam mengadakan penelitian, para penelitian memiliki peluang untuk mendefinisikan secara konseptual dan operasional atas variabel yang ditelitinya. Hasilnya adalah bahwa setiap peneliti berbeda definisi konseptual terhadap variabel yang diteliti. Maka tidak heran kita mendapati ragam definisi terhadap variabel yang diteliti. Dalam kasus ini yakni “entrepreneur. Para ahli berbeda definisinya tentang entrepreneur. Beragam definisi itu sah-sah saja karena memperkaya ilmu entrepreneur. Keragaman definisi entrepreneur dapat kita perhatikan dalam beberapa definisi berikut ini.
Pertama, entrepreneur adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. [4] Menurut definisi ini semua orang adalah entrepreneur/kewirausahaan/wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam menjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya.  Bila pengertian entrepreneur dipahami dalam definisi entrepreneur yang menekankan kemandirian maka seharusnya seseorang tidak harus bergantung pada orang lain. Namun faktanya, banyak orang  yang tidak berkarya dan berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih baik untuk masa depannya, dan ia menjadi ketergantungan kepada orang lain.[5]
Kedua, menurut Kasmir,  entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.  Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).
Definisi Ketiga sampai kedelapan belas saya simpan ..... dengan demikian fote note 6-27 juga saya simpan . Sekali lagi mohon maaf, saya lakukan ini karena para pemalas yang hanya kopi paste untuk tulisan ilmiah maupun tulisan lainnya.



[1] Wirausaha, wira berarti berani, pejuang. Wirausahan adalah gagah dalam berusaha. Jadi wirausaha berarti berani usaha mandiri.
[2] Endro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 29 
[3] S. Supriyanto, How to become a successful entrepreneur (Yogyakarta: Andi, 2014), hlm. 6
[4] H.M.Havidz Aima, dkk, Entrepreneurship & Peluang Usaha Menyusun Business Plan yang Unggul dan Inspiratif  (Jakarta:In Media, 2015), hlm.6
[5] H.M.Havidz Aima, dkk, Entrepreneurship & Peluang Usaha Menyusun Business Plan yang Unggul dan Inspiratif  (Jakarta:In Media, 2015), hlm.6